Sabtu, 20 Februari 2016

DETIK-DETIK PERLAHAN MENUJU MATI

Perlu Diingat
1. Sihat sebelum sakit
2. Muda sebelum tua
3. Kaya sebelum miskin
4. Lapang sebelum sempit
5. Hidup sebelum mati

Rabu, 17 Februari 2016

ORANG BAHAGIA TIDAK TERLALU MEMIKIRKAN HAL-HAL INI

Peduli pada lingkungan sekitar itu baik, tapi kita juga perlu waktu pula untuk menyenangkan diri sendiri. Berikut hal-hal yang tak dipikirkan orang berbahagia:

Usia

Memang, usia hanyalah angka. Dan orang-orang bahagia tahu ini pastinya. Tapi mereka tidak membiarkan jumlah yang semakin meningkat ini membuat stres. Mereka hanya melakukan yang mereka inginkan. Yang penting tetap hidup sehat.

Apa kata orang

Ini adalah salah satu penghalang terbesar untuk kebahagiaan kita. Orang yang bahagia tidak peduli itu. Jangan sampai terbelenggu oleh penilaian orang-orang lain atas diri kita sendiri. Jika terlalu peduli kata orang, itu artinya, kamu hidup untuk orang lain, bukan untuk kebahagiaanmu sendiri.

Karier

Ide utamanya adalah: jangan sampai pekerjaan membuatmu tak bahagia. Tentu, pekerjaan adalah penting bagi stabilitas dan kelangsungan hidup di masyarakat. Tapi selain itu, pisahkan kehidupan pribadi dengan urusan kantor. Jika tidak, kamu akan mudah merasa lelah, bosan atau stres.

Ketakutan berlebihan

Kadang orang merasa gugup dan cemas, yang konon datang dari rasa takut yang tidak nyata, sehingga orang-orang merasa berada di luar zona kenyamanan mereka. Tak perlu larut dalam rasa takut. Hadapi setiap masalah, cari solusinya.

Pikiran negatif

Ada banyak gangguan di luar sana. Perang, aksi protes, kerusuhan, atau hal-hal buruk yang terjadi. Orang yang berbahagia tak menyangkal hal itu, tetapi paling tidak mereka melakukan hal-hal yang baik. Mereka mungkin tidak dapat membuat revolusi dalam semalam, tetapi mereka tahu bahwa dengan kebaikan dan kasih sayang kepada sesama manusia, mereka sudah berkontribusi positif pada dunia.

Pengaruh buruk orang-orang di sekitarmu

Pernah harus berurusan dengan teman yang mengganggu atau punya banyak sifat buruk? Tinggalkan mereka. Sudah waktunya untuk menciptakan lingkungan yang positif untuk diri sendiri.. Kadang-kadang, teman-teman yang menjengkelkan dn bersifat buruk, hanya menyeretmu larut dalam kesedihan.

Penyesalan dan kegagalan di masa lalu

Masa lalu tinggal sejarah, masa depan tergantung diri sendiri. Jika ingin bahagia, lepaskan masa lalu dan lanjutkan hidup. Belajar dari itu dan terus kembangkan diri, maka pastikan kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Berandai-andai

Bisa gila jika amat mengkhawatirkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan dan tidak ada gunanya menyiksa diri untuk hal-hal yang mungkin tidak pernah terjadi. Ingatkan diri, bahwa jenis khawatir terbuang energi.

Mengharapkan imbalan

Mulai melakukan berbagai hal dengan ikhlas. Membantu orang lain adalah perbuatan belas kasih, tak perlu mengharapkan imbalan. Orang-orang bahagia tidak ingin mendapat sesuatu sebagai balasannya. Dengan demikian, mereka tidak pernah merasa kecewa.

Mengeluh

Kadang-kadang hal-hal tidak berjalan seperti yang kamu harapkan. Tapi mengeluh pun tidak berguna. Daripada mengeluh, orang-orang bahagia lebih memilih untuk berterima kasih atau bersyukur atas apa yang mereka miliki dan menemukan solusi atas masalah dengan pola pikir yang positif.

Khamis, 11 Februari 2016

PERJUANGAN BELUM SELESAI

Bila ku pejamkan mata, Hati ini bagai dibayangi
Oleh situasi yang sering mengganggu pikiranku
Namun setelah ku pikirkan kembali
Semuanya hanyalah mainan mimpiku...

Sejenak aku merenungi
Tentang kehidupan yang telah aku lalui
Kehidupan yang sedang aku lalui
Dan kehidupan yang akan aku lalui...

Kehidupan yang silih berganti
Bertukar siang menjadi malam
Bertukar malam menjadi siang
Kehidupan yang sebenarnya kejam...

Kadang...terlalu banyak ingin ditulis dan diluahkan, Namun hati berbisik "Jangan takut dan sedih,
Allah lebih mengetahui"
Walaupun begitu "Perjuangan belum selesai"...

SEBELUM LAHIR DAN SETELAH MATI

Suatu saat aku akan merasakan
Segala sesuatu yang ku miliki hilang
Namun telah ku sadari sebelumnya
Semuanya hanya sementara
Aku sering bertanya di dalam doa
Tentang apa artinya hidup
Dari lahir, hidup dan akhirnya mati
Aku tak minta dilahirkan
Dan aku tak menginginkan kematian
Tapi apa dayaku
Di bawah sang penguasa ?
Akhirnya aku simpulkan
Hidup itu seperti mimpi
Terjadi begitu saja dan akan berakhir

Ya, semuanya mimpi
Hidup yang kita nikmati
Adakah yang lebih baik
Dari pada menikmati mimpi ?

Aku merasa sebagai makhluk yang paling hina
Yang hidup kehidupan yang bukan milikku
Dan aku sering mengeluh atas segala kekuranganku Dan aku lupa pada yang berkuasa

Umurku tak menjamin nafasku
Nyawaku tak dapat dibeli
Kepada siapa aku harus mengabdi ?
Haruskah aku bersandiwara ?

Selasa, 26 Januari 2016

DEMAM



Sely  :  "Halo, selamat pagi".
Eli    :  "Halo, selamat pagi, ini siapa ya?".
Sely  :  "Sely, Eli!"
Eli    :  "Oh Sely. Ada apa ya?"
Sely  :  "Saya mau beritahu, hari ini saya tidak masuk kelas".
Eli    :  "Oh, mengapa kamu tidak masuk kelas?"
Sely  :  "Iya nih, saya lagi demam. Jadi tolong sampaikan ke
             guru yang mengajar hari ini kalau saya ijin tidak bisa
             ikut pelajaran hari ini".
Eli    :  "Oh, begitu. Baiklah nanti saya sampaikan.
             Saya doakan semoga kamu cepat sembuh".
Sely  :  "Amin, terima kasih ya, Eli. Salam buat teman-teman
             ya. Sudah dulu ya, saya mau ke dokter nih!"
Eli    :  "Ya, hati-hati, ya!"

Inti percakapan dalam telepon di atas membicarakan tentang Sely yang sedang sakit (demam), dan hendak pergi ke klinik untuk berjumpa dokter.

BERANI BERMIMPI

Alkisah, disebuah desa ada satu sekolah dasar. Hanya sedikit muridnya karena kebanyakan anak-anak membantu orang tuanya mencari nafkah. Suatu hari, guru bahasa Indonesia di sekolah itu sedang memberi pelajaran mengarang. Setelah dijelaskan cara-cara mengarang cerita, guru itu memberi pekerjaan rumah. "Anak-anak, pekerjaan rumah hari ini adalah mengarang dengan judul cita-citaku. Besok, hasil karangan kalian dibaca di depan kelas satu persatu".

Keesokan harinya, murid-murid maju kedepan kelas dan membacakan karangannya masing-masing. Lalu, tiba giliran seorang murid yang bertubuh kurus kecil, tapi suaranya sangat lantang. "Kalau aku sudah dewasa, aku ingin punya rumah besar dengan pondok-pondok kecil sekelilingnya untuk tempat peristirahatan. Berderet pepohonan dan taman yang indah tertata apik dengan beraneka bunga dan warna. Saya ingin jadi orang sukses dan bahagia bersama dengan keluarga tercinta".

Mendengar suara lantang si murid, spontan seisi kelas teryawa bersamaan. "Dasar pemimpi...!" ejek murid yang lain. Melihat kegaduhan itu, si guru jadi marah-marah. Ia menganggap, biang kerok kegaduhan adalah si murid kecil. Si guru menegurnya, "Yang kamu tulis bukan cita-cita, tapi itu impian yang tidak mungkin tercapai. Kamu harus tulis ulang tentang cita-citamu", perintah sang guru.

"Guru, ini adalah cita-citaku bukan mimpi", ujar si kecil. Besok kamu harus bawa karangan yang baru jika tidak kamu perbaiki kamu akan mendapat nilai jelek", si guru mulai mengancam. Karena sikapnya yang keras kepala dan tidak mau mengikut perintah guru, akhirnya ia mendapat nilai paling jelek di kelas.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Dua puluh tahun kemudian, si guru dan murid-murid berdecak kagum. Kebun itu ternyata dilengkapi dengan sebuah rumah besar bak istana, tinggi menjulang megah dan sangat indah arsitekturnya. "Orang yang membangun istana ini pasti orang yang sangat hebat..", gumam si guru terkagum.

Mendengar ucapan itu, si guru terpana dan teringat siapa yang berdiri di depannya. Dia adalah si murid kecil yang keras kepala yang mendapat nilai jelek waktu itu. Sekarang dia telah menjelma menjadi pengusaha yang sangat sukses.

KALAU KITA MAU MENYADARI, PERUBAHAN TERJADI KARENA ADA ORANG-ORANG KECIL YANG TANGGUH DAN PANTANG MENYERAH.